Judul
Buku : Mudah dan Aktif Belajar Biologi
Nama
Penulis : Rikky Firmansyah, Agus Mawardi H.
, M. Umar
Riandi
Tahun
Terbit : 2007
Nama
Penerbit : PT Setia Purna Inves
Kota
Penerbit : Jakarta
Jumlah
Halaman Total : 198
Halaman
Buku Resume : 146-152
Hasil
Resume :
Kita
dapat membaca buku karena adanya mata. Kita dapat menonton film kesayangan
karena adanya mata. Suara dari televisi dapat didengar karena adanya telinga.
Mata dan telinga merupakan organ yang termasuk kedalam sistem indra.
Sistem
saraf berfugsi merespon segala sesuatu atau peristiwa yang berada dilingkungan
(luar tubuh). Untuk melakukan hal ini, sistem saraf harus memiliki informasi
yang didapat dari lingkungan. Informasi dari lingkungan akan diterima oleh
reseptor berupa indra. Apa sajakah alat indra pada manusia? Apakah yang terjadi
apabila indra mengalami gangguan?
1.
alat-alat Indra
Informasi
berupa inpuls yang diterima indra dapat berupa cahaya, tekanan, panas,
gelombang suara, bau, maupun wangi. Semua informasi tersebut dapat diterima
secara khusus oleh indra tertentu. Tubuh manusia, memiliki 5 alat indra, yaitu
mata, hidung, telinga, lidah dan kulit.
a. Mata
Mata
berfungsi dalam kesehatan. Mata merupakan indra yang menerima rangsang berupa
cahaya. Mata mampu membedakan warna, melihat objek dari jarak jauh, dan merespon
cahaya.
Bola
mata pada manusia terdiri atas beberapa bagian. Bagian paling luar dari bola
mata terususun atas lapisan jaringan ikat yang disebut sklera. Adapun lapisan
dalam berupa jaringan ikat yang dapat mengandung pigmen dan pembuluh darah yang
disebut koroid.
Pada
bagian depan terdapat skelera yang transparan disebut kornea. Skelera
dilindungi oleh membran mokus (konjungtiva) yang berfungsi membuat mata selalu
basah atau lembap. Skelera yang transparan (kornea) memungkinkan cahaya masuk
kebola mata. Kornea tidak dilingdungi oleh konjungtiva. Bagian depan koroid
membentuk suatu badan bulat yang disebut iris. Iris adalah bagian berwarna pada mata. Iris berfungsi mengatur
cahaya yang masuk melalui pupil. Pupil adalah suatu lubang ditengah-tengah
iris. Jika intensitas cahaya tinggi, pupil akan mengecil, dan sebaliknya.
Di
dalam koroid terdapat retina yang membentuk lapisan dalam bola mata. Retina
mengandung sel-sel fotoreseptor. Retina pada manusia mengandung sekitar 125
juta sel-sel batang dan 6 juta sel-sel kerucut. Kedua sel fotoreseptor tersebut
diberi nama sesuai dengan bentuknya.
Sel-sel
fotoreseptor banyak terletak pada pusat retina (fokus) yang disebut fovea. Sel-sel
fotoreseptor tidak terdapat dibagian retina. Pada retina terdapat suatu bagian
yang tidak dapat mendeteksi cahaya, yaitu bintik buta (blind spot).
Sel
batang dan sel kerucut memiliki fungsi yang berbeda dalam proses penglihatan.
Sel batang lebih sensitif terhadap cahaya, namun tidak dapat membedakan warna.
Sel batang tidak bekerja pada malam hari. Hal ini berbeda dengan sel kerucut
yang dapat membedakan warna pada siang hari.
Sel
batang dan sel kerucut mengandung pigmen penglihatan retinal yang terikat pada
membran yang disebut opsin. Sel batang memiliki tipe opin yang bergabung
bersama retina yang membentuk pigmen rhodopsin. Rhodopsin adalah pigmen yang
sensitif terhadap cahaya redup.
Sel
kerucut mengandung pigmen fotopsin. Fotopsin dapat menyerap cahaya terang dan
berwarna. Terdapat tiga jenis sel kerucut, yaitu sel kerucut biru, sel kerucut
hijau, dan sel kerucut merah.
Gambar
di atas menunjukkan jalur masuk cahaya ke mata melalui retina. Ujung sel batang
dan sel kerucut menempel pada retina bagian belakang. Cahaya akan masuk
melewati lapisan sel-sel saraf yang transparan sebelum mencapai sel belakang
dan sel kerucut. Retina menyerap cahaya, rhodopsin dan fotopsin akan berubah
pada fermeabilitas membran sel nya. Hal ini merupakan awal pelepasan
neurotransmiter. Kemudian, informasi visual oleh sel batang dan sel kerucut
akan menuju jaringan neuron melalui sel-sel fotoreseptor. Potensial aksi
membawa informasi yang telah diolah menuju otak melalui saraf optik.
Penglihatan tiga dimensi yang biasa kita lihat merupakan hasil pengolahan dari
dua mata.
Di
belakang pupil terdapat sebuah lensa (bikonveks) yang berfungsi memfokuskan
cahaya yang masuk. Lensa tersebut melekat pada suatu otot mata (otot siliaris).
Bentuk lensa diatur oleh otot mata tersebut. Ketika mata melihat objek yang
dekat, otot siliaris akan berkontraksi menarik koroid mendekati lensa.
Akibatnya, lensa menjadi tebal dan berbentuk bulat. Sebaliknya, ketika melihat
objek yang jauh, otot siliaris akan berelaksasi sehingga koroid menjauhi lensa.
Hal ini menyebabkan lensa menjadi tipis. Kemampuan lensa untuk menebal dan
menipis disebut akomodasi.
Bola
mata terbagi menjadi dua ruang ruang yang bear dibelakang lensa berisi
(vitreous humor). Adapun ruang yang kecil didepan lensa berisi akueous humor.
b. Hidung
Pada
hidung terdapat kemoreseptor, yaitu sel-sel sensoris yang sensitif terhadap
senyawa kimia. Reseptor pada hidung trletak di dalam epitel olfaktori. Reseptor
tersebut adalah sel-sel olfaktori. Epitel olfaktori terletak diatas rongga
hidung. Sel-sel olfaktori akan mengirimkan impuls melewati akson menuju bulbus
olfaktori pada otak.
Ketika
suatu substansi masuk kerongga hidung, substansi tersebut akan menempel pada
protein reseptor spesifik pada silia. Menempelnya substansi tersebut memicu
adanya potensial aksi. Di otak, sinyal dari potensial aksi akan diolah. Manusia
dapat membedakan ribuan bau yang berbeda.
c. Telinga
Berfungsi
untuk mendengar, karena memiliki reseptor yang sensitif terhadap getaran.
Selain itu, telinga berperan dalam keseimbangan tubuh. Telinga terbagi menjadi
telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.
Telinga
luar terdiri atas daun telinga dan saluran pendengaran (lubang telinga). Daun
telinga berfungsi memusatkan suara yang masuk ke lubang telinga. Suara akan
dikumpulkan oleh daun telinga dan kemudian masuk ke lubang telinga menggetarkan
gendang telinga (membran timpani). Gendang telinga merupakan jaringan yang
membatasi antara telinga luar dan telinga tengah.
Di
dalam telinga tengah terdapat tiga tulang pendengar, yaitu tulang martil (maleus),
tulang landasan (incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Ketika suara
menggetarkan gendang telinga, ketiga tulang penderan akan menangkap getaran
tersebut. Pada telinga tengah terdapat saluran Eustachaius yang menghubungkan
ruang telinga dengan faring. Saluran tersebut berfungsi menyeimbangkan tekanan
udara di telinga tengah dan lubang telinga. Tulang sanggurdi melekat pada
tingkat oval, yaitu suatu membran tipis didalam telinga.
Telinga
dalam terdiri atas rumah siput (koklea). Didalam koklea terdapat tiga ruangan
(kanal), yaitu kanal atas kanal tengah, dan kanal dalam. Dikanal tengah
terdapat organ pendengaran, yaitu organ korti. Pada organ korti terdapat sel
yang memiliki rambut-rambut. Sel berambut tersebut peka terhadap getaran. Sel
tersebut melekat pada membran basila.
Suara
akan dikumpulkan oleh daun telinga ke lubang telinga pada telinga luar. Getaran
suara yang masuk akan menggetarkan gendang telinga. Dari gendang telinga,
getaran akan disalurkan ke tulang-tulang pendengaran dan kemudian ke tingkap
oval. Getaran
pada tingkat oval akan menggetarkan cairan di dalam koklea. Getaran akan
merambat ke ujung koklea melalui kanal atas. Kemudian, getaran akan masuk ke
kanal bawah dan menghilang.
Pada saat getaran baru ke kanal atas, getaran
tersebut akan menekan kanal tengah. Hal ini mengakibatkan membran basilar
bergetar. Secara otomatis, sel-sel berambut ikut bergetar menyapu membran
tektorial. Ketika sel berambut bergetar lubang ion pada membrannya membuka.
Hasilnya, sel berambut melepaskan neurotransmiter menuju neuron sensoris.
Neuron sensoris ini akan meneruskan impuls kotak melalui saraf pendengaran.
Otak besar menerima impuls ini dan kemudian menerjemahkannya.
d. Lidah
Lidah merupakan indra pengecap. Pada lidah terdapat
banyak keoreeptor berupa kuncup pengecap. Di dalam kuncup pengecap terdapat
sel-sel reseptor perasa. Ketika makanan masuk ke dalam kuncup pengecap, sel-sel
reseptor rasa akan aktif dan mengirimkan impuls saraf. Impuls saraf tersebut
akan dikirim ke otak melalui neuron. Otak akan mengolah impuls tersebut sebagai
rasa.
Terdapat bermacam-macam reseptor rasa yang dapat
membedakan rasa. Lidah dapat merasakan empat macam rasa, yaitu manis, asin,
asam, dan pahit. Setiap makanan yang masuk akan merangsang beberapa tipe
reseptor.
e. Kulit
Kulit mengandung reseptor yang paling banyak
dibanding dengan organ-organ lain di dalam tubuh. Reseptor tersebut berupa
mekanoreseptor, yaitu suatu reseptor yang akan aktif jika terkena rangsangan
berupa tekanan dan sentuhan. Setiap reseptor akan merespon rangsangan yang
berbeda-beda. Terdapat empat macam reseptor pada kulit, yaitu Meinssner,
Merkel, Paccini, dan Ruffini Meinssner peka terhadap sentuhan ringan. Merkel
peka terhadap sentuhan dan tekanan. Merkel dapat menunjukkan secara cepat sumber
rangsangan. Paccini peke terhadap getaran dan tekanan yang kuat. Ruffini peka
terhadap sentuhan yang berulang-ulang.
2. Gangguan dan penyakit
pada ala-alat indra
Sistem indra pada manusia dapat mengalami gangguan
dan penyakit. Berikut adalah beberapa gangguan dan penyakit pada alat-alat
indra.
- Miopi, gangguan pada daya akomodasi lensa akibat lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang. Penderita miopi tidak dapat memfokuskan bayangan tepat di bintik kuning. Akibatnya, jika melihat objek yang jauh, bayangan jatuh di depan bintik kuning. Penderita miopi dapat dibantu dengan menggunakan lensa cekung.
- Hipermetropi, gangguan pada daya akomodasi lensa akibat lensa terlalu pipih atau bola mata terlalu pendek. Pada penderita hipermetropi, bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Penderita hipermetropi tidak bisa melihat objek dari jarak dekat. Penderita dapat dibantu dengan menggunakan lensa cembung.
- Presbiopi, gangguan akibat menurunnya daya akomodasi akibat pertambahan usia.
- Anosmia, yaitu kehilangan rasa bau akibat penyumbatan rongga hidung, rusaknya sel-sel reseptor dan gangguan saraf.
- Otitis media (radang telinga tengah), disebabkan oleh infeksi atau virus. Gejala penyakit ini adalah sakit telinga, gangguan pendengaran, dan demam. Otitis media paling sering menyerang anak-anak.
- Mabuk perjalanan (motion sicknesss), gangguan pada keseimbangan akibat gerakan atau getaran secara terus-menerus selama perjalanan. Gejala gangguan ini antara lain, mual, muntah, berkeringan, dan pusing.






