Rabu, 04 November 2015

SISTEM INDRA PADA MANUSIA

Judul Buku                              : Mudah dan Aktif Belajar Biologi
Nama Penulis                          : Rikky Firmansyah, Agus Mawardi H. , M. Umar
  Riandi
Tahun Terbit                            : 2007
Nama Penerbit                        : PT Setia Purna Inves
Kota Penerbit                          : Jakarta
Jumlah Halaman Total            : 198
Halaman Buku Resume          : 146-152
Hasil Resume                          :

Kita dapat membaca buku karena adanya mata. Kita dapat menonton film kesayangan karena adanya mata. Suara dari televisi dapat didengar karena adanya telinga. Mata dan telinga merupakan organ yang termasuk kedalam sistem indra.
Sistem saraf berfugsi merespon segala sesuatu atau peristiwa yang berada dilingkungan (luar tubuh). Untuk melakukan hal ini, sistem saraf harus memiliki informasi yang didapat dari lingkungan. Informasi dari lingkungan akan diterima oleh reseptor berupa indra. Apa sajakah alat indra pada manusia? Apakah yang terjadi apabila indra mengalami gangguan?
1. alat-alat Indra
Informasi berupa inpuls yang diterima indra dapat berupa cahaya, tekanan, panas, gelombang suara, bau, maupun wangi. Semua informasi tersebut dapat diterima secara khusus oleh indra tertentu. Tubuh manusia, memiliki 5 alat indra, yaitu mata, hidung, telinga, lidah dan kulit.

a. Mata
Mata berfungsi dalam kesehatan. Mata merupakan indra yang menerima rangsang berupa cahaya. Mata mampu membedakan warna, melihat objek dari jarak jauh, dan merespon cahaya.

Bola mata pada manusia terdiri atas beberapa bagian. Bagian paling luar dari bola mata terususun atas lapisan jaringan ikat yang disebut sklera. Adapun lapisan dalam berupa jaringan ikat yang dapat mengandung pigmen dan pembuluh darah yang disebut koroid.
Pada bagian depan terdapat skelera yang transparan disebut kornea. Skelera dilindungi oleh membran mokus (konjungtiva) yang berfungsi membuat mata selalu basah atau lembap. Skelera yang transparan (kornea) memungkinkan cahaya masuk kebola mata. Kornea tidak dilingdungi oleh konjungtiva. Bagian depan koroid membentuk suatu badan bulat yang disebut iris. Iris adalah bagian  berwarna pada mata. Iris berfungsi mengatur cahaya yang masuk melalui pupil. Pupil adalah suatu lubang ditengah-tengah iris. Jika intensitas cahaya tinggi, pupil akan mengecil, dan sebaliknya.
Di dalam koroid terdapat retina yang membentuk lapisan dalam bola mata. Retina mengandung sel-sel fotoreseptor. Retina pada manusia mengandung sekitar 125 juta sel-sel batang dan 6 juta sel-sel kerucut. Kedua sel fotoreseptor tersebut diberi nama sesuai dengan bentuknya.
Sel-sel fotoreseptor banyak terletak pada pusat retina (fokus) yang disebut fovea. Sel-sel fotoreseptor tidak terdapat dibagian retina. Pada retina terdapat suatu bagian yang tidak dapat mendeteksi cahaya, yaitu bintik buta (blind spot).
Sel batang dan sel kerucut memiliki fungsi yang berbeda dalam proses penglihatan. Sel batang lebih sensitif terhadap cahaya, namun tidak dapat membedakan warna. Sel batang tidak bekerja pada malam hari. Hal ini berbeda dengan sel kerucut yang dapat membedakan warna pada siang hari.
Sel batang dan sel kerucut mengandung pigmen penglihatan retinal yang terikat pada membran yang disebut opsin. Sel batang memiliki tipe opin yang bergabung bersama retina yang membentuk pigmen rhodopsin. Rhodopsin adalah pigmen yang sensitif terhadap cahaya redup.
Sel kerucut mengandung pigmen fotopsin. Fotopsin dapat menyerap cahaya terang dan berwarna. Terdapat tiga jenis sel kerucut, yaitu sel kerucut biru, sel kerucut hijau, dan sel kerucut merah.

Gambar di atas menunjukkan jalur masuk cahaya ke mata melalui retina. Ujung sel batang dan sel kerucut menempel pada retina bagian belakang. Cahaya akan masuk melewati lapisan sel-sel saraf yang transparan sebelum mencapai sel belakang dan sel kerucut. Retina menyerap cahaya, rhodopsin dan fotopsin akan berubah pada fermeabilitas membran sel nya. Hal ini merupakan awal pelepasan neurotransmiter. Kemudian, informasi visual oleh sel batang dan sel kerucut akan menuju jaringan neuron melalui sel-sel fotoreseptor. Potensial aksi membawa informasi yang telah diolah menuju otak melalui saraf optik. Penglihatan tiga dimensi yang biasa kita lihat merupakan hasil pengolahan dari dua mata.

Di belakang pupil terdapat sebuah lensa (bikonveks) yang berfungsi memfokuskan cahaya yang masuk. Lensa tersebut melekat pada suatu otot mata (otot siliaris). Bentuk lensa diatur oleh otot mata tersebut. Ketika mata melihat objek yang dekat, otot siliaris akan berkontraksi menarik koroid mendekati lensa. Akibatnya, lensa menjadi tebal dan berbentuk bulat. Sebaliknya, ketika melihat objek yang jauh, otot siliaris akan berelaksasi sehingga koroid menjauhi lensa. Hal ini menyebabkan lensa menjadi tipis. Kemampuan lensa untuk menebal dan menipis disebut akomodasi.
Bola mata terbagi menjadi dua ruang ruang yang bear dibelakang lensa berisi (vitreous humor). Adapun ruang yang kecil didepan lensa berisi akueous humor.

b. Hidung
Pada hidung terdapat kemoreseptor, yaitu sel-sel sensoris yang sensitif terhadap senyawa kimia. Reseptor pada hidung trletak di dalam epitel olfaktori. Reseptor tersebut adalah sel-sel olfaktori. Epitel olfaktori terletak diatas rongga hidung. Sel-sel olfaktori akan mengirimkan impuls melewati akson menuju bulbus olfaktori pada otak.

Ketika suatu substansi masuk kerongga hidung, substansi tersebut akan menempel pada protein reseptor spesifik pada silia. Menempelnya substansi tersebut memicu adanya potensial aksi. Di otak, sinyal dari potensial aksi akan diolah. Manusia dapat membedakan ribuan bau yang berbeda.

c. Telinga
Berfungsi untuk mendengar, karena memiliki reseptor yang sensitif terhadap getaran. Selain itu, telinga berperan dalam keseimbangan tubuh. Telinga terbagi menjadi telinga luar, telinga tengah, dan telinga dalam.

Telinga luar terdiri atas daun telinga dan saluran pendengaran (lubang telinga). Daun telinga berfungsi memusatkan suara yang masuk ke lubang telinga. Suara akan dikumpulkan oleh daun telinga dan kemudian masuk ke lubang telinga menggetarkan gendang telinga (membran timpani). Gendang telinga merupakan jaringan yang membatasi antara telinga luar dan telinga tengah.
Di dalam telinga tengah terdapat tiga tulang pendengar, yaitu tulang martil (maleus), tulang landasan (incus), dan tulang sanggurdi (stapes). Ketika suara menggetarkan gendang telinga, ketiga tulang penderan akan menangkap getaran tersebut. Pada telinga tengah terdapat saluran Eustachaius yang menghubungkan ruang telinga dengan faring. Saluran tersebut berfungsi menyeimbangkan tekanan udara di telinga tengah dan lubang telinga. Tulang sanggurdi melekat pada tingkat oval, yaitu suatu membran tipis didalam telinga.
Telinga dalam terdiri atas rumah siput (koklea). Didalam koklea terdapat tiga ruangan (kanal), yaitu kanal atas kanal tengah, dan kanal dalam. Dikanal tengah terdapat organ pendengaran, yaitu organ korti. Pada organ korti terdapat sel yang memiliki rambut-rambut. Sel berambut tersebut peka terhadap getaran. Sel tersebut melekat pada membran basila.
Suara akan dikumpulkan oleh daun telinga ke lubang telinga pada telinga luar. Getaran suara yang masuk akan menggetarkan gendang telinga. Dari gendang telinga, getaran akan disalurkan ke tulang-tulang pendengaran dan kemudian ke tingkap oval. Getaran pada tingkat oval akan menggetarkan cairan di dalam koklea. Getaran akan merambat ke ujung koklea melalui kanal atas. Kemudian, getaran akan masuk ke kanal bawah dan menghilang.
Pada saat getaran baru ke kanal atas, getaran tersebut akan menekan kanal tengah. Hal ini mengakibatkan membran basilar bergetar. Secara otomatis, sel-sel berambut ikut bergetar menyapu membran tektorial. Ketika sel berambut bergetar lubang ion pada membrannya membuka. Hasilnya, sel berambut melepaskan neurotransmiter menuju neuron sensoris. Neuron sensoris ini akan meneruskan impuls kotak melalui saraf pendengaran. Otak besar menerima impuls ini dan kemudian menerjemahkannya.

d. Lidah
Lidah merupakan indra pengecap. Pada lidah terdapat banyak keoreeptor berupa kuncup pengecap. Di dalam kuncup pengecap terdapat sel-sel reseptor perasa. Ketika makanan masuk ke dalam kuncup pengecap, sel-sel reseptor rasa akan aktif dan mengirimkan impuls saraf. Impuls saraf tersebut akan dikirim ke otak melalui neuron. Otak akan mengolah impuls tersebut sebagai rasa.
Terdapat bermacam-macam reseptor rasa yang dapat membedakan rasa. Lidah dapat merasakan empat macam rasa, yaitu manis, asin, asam, dan pahit. Setiap makanan yang masuk akan merangsang beberapa tipe reseptor.

e. Kulit
Kulit mengandung reseptor yang paling banyak dibanding dengan organ-organ lain di dalam tubuh. Reseptor tersebut berupa mekanoreseptor, yaitu suatu reseptor yang akan aktif jika terkena rangsangan berupa tekanan dan sentuhan. Setiap reseptor akan merespon rangsangan yang berbeda-beda. Terdapat empat macam reseptor pada kulit, yaitu Meinssner, Merkel, Paccini, dan Ruffini Meinssner peka terhadap sentuhan ringan. Merkel peka terhadap sentuhan dan tekanan. Merkel dapat menunjukkan secara cepat sumber rangsangan. Paccini peke terhadap getaran dan tekanan yang kuat. Ruffini peka terhadap sentuhan yang berulang-ulang.

2. Gangguan dan penyakit pada ala-alat indra
Sistem indra pada manusia dapat mengalami gangguan dan penyakit. Berikut adalah beberapa gangguan dan penyakit pada alat-alat indra.
  1. Miopi, gangguan pada daya akomodasi lensa akibat lensa terlalu cembung atau bola mata terlalu panjang. Penderita miopi tidak dapat memfokuskan bayangan tepat di bintik kuning. Akibatnya, jika melihat objek yang jauh, bayangan jatuh di depan bintik kuning. Penderita miopi dapat dibantu dengan menggunakan lensa cekung.
  2. Hipermetropi, gangguan pada daya akomodasi lensa akibat lensa terlalu pipih atau bola mata terlalu pendek. Pada penderita hipermetropi, bayangan jatuh di belakang bintik kuning. Penderita hipermetropi tidak bisa melihat objek dari jarak dekat. Penderita dapat dibantu dengan menggunakan lensa cembung.
  3. Presbiopi, gangguan akibat menurunnya daya akomodasi akibat pertambahan usia.
  4. Anosmia, yaitu kehilangan rasa bau akibat penyumbatan rongga hidung, rusaknya sel-sel reseptor dan gangguan saraf.
  5. Otitis media (radang telinga tengah), disebabkan oleh infeksi atau virus. Gejala penyakit ini adalah sakit telinga, gangguan pendengaran, dan demam. Otitis media paling sering menyerang anak-anak.
  6. Mabuk perjalanan (motion sicknesss), gangguan pada keseimbangan akibat gerakan atau getaran secara terus-menerus selama perjalanan. Gejala gangguan ini antara lain, mual, muntah, berkeringan, dan pusing.